Friday, June 02, 2006

Catatan Akhir Tahun dari Poso dan Palu (1)

Catatan Akhir Tahun dari Poso dan Palu (1)

Kumparan Kekerasan Melilit Kita

Minggu (12/12/2004), waktu masih menunjukkan pukul 19.00 Waktu Indonesia Tengah, tiba-tiba: Blarr!. Sebuah suara menggelegar mengisi rongga telinga. Beberapa detik kemudian, ratusan orang berlarian. Mereka adalah jemaat Gereja Immanuel, di Jalan Masjid Raya, Kelurahan Lolu, Palu Selatan, Sulawesi Tengah. Malam itu, seorang anggota satuan pengamanan (Satpam) bernama Binti Jaya (61) tersungkur dengan tangan kiri patah dan betis kanan ditembusi timah panas.

Orang ramai panik. Rupanya sekelompok orang memberondongkan tembakan ke arah para jemaat gereja. Setelah itu mereka melemparkan bom ke atap. Selain korban Binti Jaya, sejumlah jemaat lain mengalami trauma.

Beberapa saat sebelum itu, sekelompok orang juga menyerang jemaat Gereja Kristen Sulawesi Tengah Anugerah di Jalan Tanjung Manimbaya, Kelurahan Tatura, Palu Selatan. Akibatnya Rada Krisna (38) tertembak di bahu, Novri (17) tertembak di bagian belakang kepala, sedang Stevany (19) mengalami trauma.

Saat itu para korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bala Keselamatan, Jalan Woodward, Kelurahan Maesa, Palu Selatan dan Rumah Sakit Umum Daerah Undata, di Jalan DR Soeharso, Kelurahan Besusu, Palu Timur.

Sontak peristiwa di pengujung tahun itu menyita perhatian warga Kota Palu yang tak seberapa besar ini. Orang ramai mungkin bertanya-tanya, apa lagi yang akan terjadi setelah serangkaian kekerasan serupa menjadi catatan buram selama 2004.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Polisi Ariyanto Sutadi mencatat puluhan kasus kekerasan terjadi selama kurun waktu Januari-Desember 2004 ini di Poso dan Palu. Aksi-aksi kekerasan itu secara kualitatif meningkat. “Pelaku tidak hanya menggunakan senjata tradisional, tapi juga menggunakan senjata api rakitan atau pun organik. Bahkan ada yang memakai bom,” kata mantan Direktur I Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia ini.

Dapat dicatat aksi-aksi kekerasan itu berlatarbelakang berbeda. Mulai dari soal suku, agama, sosial, ekonomi, bahkan ada yang berlatar persoalan antarkeluarga yang kemudian menyeret empati komunal lebih luas lagi hingga berujung pada aksi kekerasan.

Di mulai dari Palu dan Parigi, Sulawesi Tengah. Pada 21 Januari 2004, penduduk Maranatha, Donggala (sekitar 30 kilometer dari Palu) yang bersuku Da’a (Kaili—red) bentrok dengan penduduk bersuku Bugis. Saat itu dilaporkan 1 korban tewas terkena tembakan senjata api rakitan laras panjang. Persoalan ini berlatarbelakang pada saling klaim kepemilikan sepetak lahan pertanian di perbatasan kedua kampung itu.

Menyusul kemudian pada 26 Mei 2004. Saat itu Jaksa Ferry Silalahi, jaksa di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah tewas ditembak orang tak dikenal saat kembali dari ibadah. Kejadian itu terjadi di Jalan Swadaya, Kelurahan Birobuli, Palu Selatan. Jaksa Ferry selama karirnya di Kejati Sulteng menanangani kasus-kasus terorisme yang melibatkan sejumlah anggota Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) dan mujahiddin lokal.

Belum lekang dari ingatan orang ramai, pada 18 Juli 2004, kabar yang tak kalah mengejutkan terjadi di Gereja Effatha, Jalan Banteng, Kelurahan Tatura, Palu Selatan. Kala itu, Pendeta Susianti Tinulele tewas ditembak di atas mimbar gereja saat menyampaikan khutbah. Warga Kota Palu pun geger. Polisi melakukan razia 1 x 24 jam selama hampir sebulan di pintu gerbang keluar masuk Kota Palu. Pelaku penembakan diduga mereka yang terlibat konflik Poso.

Lalu, pada 3 Agustus 2004, sebuah mobil boks milik PT Anindita Multiniaga Indonesia, perusahaan penyalur rokok Djarum Super dirampok oleh kawanan yang lagi-lagi diduga terlibat konflik Poso. Mereka memakai senjata api laras pendek. Tiga pelaku perampokan bersenjata itu telah ditangkap.

Lagi-lagi bentrok antarsuku terjadi di Lembah Palu pada 3 September 2004. Kali ini terjadi antarwarga bersuku Kaili dan Bugis di Sidondo, Donggala (sekitar 35 kilometer dari Palu). Ada yang memakai senjata tradisional seperti parang, sumpit dan tombak, ada pula yang diketahui memakai senjata api rakitan laras panjang. Persoalan dasarnya adalah masalah sosial dan ekonomi. Secara kasat mata, warga Suku Bugis lebih maju secara ekonomi tinimbang warga Suku Kaili, yang merupakan komunitas suku asli di Lembah Palu.

Nah, pada 17 September 2004 kasusnya tergolong unik. Soalnya, sesama warga Suku Kaili di Pesaku dan Sidondo, Donggala saling serang. Persoalan bermula dari persoalan antarpemuda yang menyeret empati komunal yang kemudian termobilisasi untuk saling menyerang.
Sekarang dari Palu menuju Poso. Pada Februari 2004, sejumlah jemaat yang tengah melakukan kebaktian di Gereja Tabernakel di Kilo Trans, Poso Pesisir diberondong tembakan. Sekitar 7 orang luka-luka. Pelaku juga belum berhasil diungkap Polisi.

Lalu, Pada 30 Maret 2004, Dekan Fakultas Hukum Universitas Sintuwu Maroso Ros Polingo ditembak dari jarak dekat. Untungnya, nyawanya masih bisa tertolong. Peluru yang dimuntahkan dari senjata api rakitan laras panjang hanya menyerempet kulit lehernya. Kepolisian Resor Poso menduga pelaku salah sasaran.

Pada hari yang sama sekitar pukul 19.00 WITA, seorang pendeta muda di Gereja Pantekosta, Membuke, Poso Pesisir tewas ditembak. Sebelum itu istrinya sempat mempersilahkan salah seorang kawanan penembak itu untuk masuk ke rumahnya. Pendeta itu ditembak saat tengah memperbaiki bohlam listrik. Sampai kini pelakunya belum berhasil diungkapkan Polisi.

Menyusul kemudian pada 8 November 2004. Seorang Warga Negara Indonesia keturunan Cina bernama Tommy Sanjaya alias Imbo tewas ditembak ketika tengah mengemudikan angkutan umum di ruas jalan perbatasan Madale dan Tegalrejo, Poso Kota. Kapolres Poso Ajun Komisaris Besar Polisi Abdi Dharma menduga pelaku bekerja sama dengan masyarakat setempat. “Sebab dari keterangan para saksi, Tommy seperti sudah ditunggui untuk melewati jalan itu,” sebut Abdi.

Penembakan Tommy masih segar dalam ingatan, warga Kota Poso kembali dikejutkan dengan aksi kekerasan yang menewaskan Kepala Desa Pinedapa, Carminalis Ndele. Carminalis dibunuh di Kawende (sekitar 2 kilometer dari Pinedapa) lalu potongan kepalanya dibuang di ruas Jalan Sayo, Poso Kota (sekitar 40-an kilometer dari Pinedapa). Pada kasus ini Polisi mengidentifikasi sejumlah tersangka. Para tersangka diduga adalah orang-orang lama yang terlibat konflik Poso.

Saat kasus pembunuhan Carminalis masih hangat dibicarakan, peledakan bom di angkutan umum di depan Pasar Sentral Jalan Pulau Sumatera, Poso Kota pada 13 November 2004 langsung menyita perhatian. Sebanyak 7 orang tewas dalam aksi peledakan bom itu. Polisi memeriksa 10 orang saksi, termasuk para penumpang yang selamat. Bahkan dua pekan lalu, Polisi menahan Jose Bunga Tandi, warga Sepe, Malei Lage yang diduga mengetahui aksi peledakan bom itu.

Pekan-pekan berikutnya, Poso mendapat kunjungan Kapolri Jenderal Polisi Da’i Bachtiar, Menteri Koordinator Politiik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, Menteri Dalam Negeri M. Ma’ruf dan Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Endiarto Sutarto. Selain memberikan bantuan kepada korban dan keluarganya, Menkopolhukam Widodo AS menegaskan pemerintah benar-benar memperhatikan penyelesaian kasus-kasus yang terjadi di Poso.

Bersamaan dengan kunjungan Kapolri Da’i, sebanyak 12 orang anggota intelejen Polri dari Polda Metro Jaya dan Polda Jabar dikirim ke Poso untuk membantu pengungkapan sejumlah kasus di Poso. Kabareskrim Polri Inspektur Jenderal Polisi Suyitno Landung, selama beberapa waktu memimpin langsung tim Laboratorium Forensik Polri di Poso. Poso kembali jadi perhatian. Sidang-sidang kabinet dari kementerian terkait kembali menjadikan Poso salah satu agenda pembicaraannya.

Selain kasus-kasus itu, sejumlah kasus kekerasan yang lebih kecil lainnya terus terjadi di Palu, Parigi dan Poso. Yang menjadi perhatian adalah kasus di mana aksi-aksi kekerasan dilakukan dengan senjata api rakitan ataupun organik, bahkan bom yang oleh Polisi disebut Improvised Explosive Device (IED).

Dalam catatan Polda Sulteng sepanjang 2004 telah terjadi 28 kasus kekerasan bersenjata yang menonjol. Hanya pada Juni 2004 saja tidak ada kasus yang terjadi. Akibat dari aksi-aksi kekerasan itu sekitar 20 orang meninggal dunia dan 30 orang lainnya luka berat.

Yang juga harus dicatat oleh masyarakat, menurut Direktur Lembaga Pengembangan dan Studi Hak Azasi Manusia (LPS-HAM) Syamsu Alam Agus adalah aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Alam mencontohkan kasus Bambang yang ditangkap dan ditembak Polisi pada 29 Juli 2004 di Betue, Lore Utara, Poso. Lelaki itu diduga sebagai tersangka penembak Jaksa Ferry, tapi ternyata kemudian tidak terbukti dan dilepaskan.

Jadi memang kumparan besar kekerasan tengah melilit kita, yang menurut Rizali Djaelangkara, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako juga diajarkan oleh Negara. “Kita bahkan memiliki standar ganda melihat kekerasan. Kalau kekerasan itu dilakukan aparat keamanan, kita melihatnya sebagai sebuah aksi yang dilegitimasi oleh hukum atau atas kepentingan umum,” demikian hemat Rizali.

Ya, kumparan kekerasan tengah melilit kita. Melilit orang-orang Poso dan Palu. Semoga fajar Tahun Baru 2005 nanti menghapus dendam, duka lara dan nestapa para korban angkara di Poso dan Palu.
[jgbua]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home